A. Pengertian Ātman
Ātman merupakan hakikat spiritual atau diri sejati yang ada dalam makhluk hidup. Dalam ajaran Hindu, Ātman berasal dari Brahman, yaitu realitas tertinggi, dan menjadi dasar spiritual keberadaan makhluk. Tubuh manusia mengalami perubahan dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga usia lanjut. Akan tetapi, Ātman dipahami sebagai hakikat yang tidak mengalami perubahan fisik sebagaimana tubuh. Kitab Bhagavadgita II.20 menjelaskan bahwa diri sejati tidak dilahirkan dan tidak mengalami kematian seperti badan jasmani.
B. Sifat-Sifat Ātman
Dalam ajaran Hindu, sifat-sifat Ātman antara lain: Achhedya: tidak dapat dilukai atau dipotong dengan senjata. Adahya: tidak dapat dibakar oleh api. Akledya: tidak dapat dibasahi oleh air. Asosya: tidak dapat dikeringkan oleh angin. Nitya: bersifat kekal. Sarwagata: berada di mana-mana. Sthanu: teguh atau tidak berubah. Sanatana: abadi. Sifat tersebut menegaskan bahwa Ātman tidak sama dengan badan jasmani yang dibatasi oleh ruang, waktu, dan perubahan fisik.
C. Hubungan Ātman dengan Tubuh Manusia
Dalam filsafat Hindu, manusia dipahami memiliki dimensi jasmani dan rohani. Sthula Sarira adalah badan kasar atau badan fisik, yang terdiri atas unsur-unsur material. Tubuh memerlukan makanan, air, udara, dan perawatan agar tetap sehat. Suksma Sarira adalah badan halus yang berkaitan dengan perangkat batin, pikiran, dan pengalaman kejiwaan. Ātman berbeda dari kedua badan tersebut karena dipahami sebagai hakikat diri yang paling mendasar. Hubungan ini mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya merawat tubuh, tetapi juga perlu mengembangkan kejernihan pikiran, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual.
D. Ātman dan Penghormatan terhadap Kehidupan
Karena setiap makhluk memiliki hakikat kehidupan yang patut dihormati, manusia hendaknya tidak bertindak sewenang-wenang terhadap makhluk lain. Pemahaman tentang Ātman mendorong munculnya sikap welas asih, kepedulian, dan penghormatan terhadap kehidupan.
Dalam kehidupan sekolah, siswa dapat menerapkannya dengan tidak melakukan perundungan, tidak menyakiti hewan, menghargai perbedaan, dan membantu teman yang mengalami kesulitan.
E. Kesimpulan
Ātman mengajarkan bahwa manusia tidak hanya terdiri atas tubuh fisik. Kesadaran terhadap hakikat diri menjadi landasan untuk membentuk perilaku yang bijaksana, menghargai sesama, dan semakin mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa.